Dilema Meningkatnya Partisipasi Pemilih dan Politisasi SARA, Hoax, Fitnah Serta Politik Uang

0
194
views

DDC, Jakarta – Anggota Badan Pembina Gerakan Kebajikan Pancasila (GKP), Sabar Mangadoe Tambunan menyatakan bahwa perayaan Pesta Demokrasi 2019 lalu walau sukses, bahkan partisipasi pemilih meningkat hingga di atas 80%, namun masih menyisakan pekerjaan rumah yang tak ringan, yaitu karena politisasi SARA, Hoax, Fitnah serta praktek Money Politik (politik uang) yang juga terjadi peningkatan.

“Hal ini tentu menjadi dilema bagi bangsa kita ya, sebab peningkatan paritipasi pemilih juga diiringi dengan peningkatan politisasi SARA, Hoax, Fitnah serta praktek Money Politik (politik uang). Ini adalah masalah besar yang menjadi tanggung jawab bersama untuk ke depan, khususnya di Pemilukada serentak 2020 nanti,” terangnya.

Demokrasi Tuna Adab

Kemudian, ia juga menerangkan bahwa situasi itu membuat kita menjadi tidak beradab dalam berdemokrasi (demokrasi Tuna Adab). Praktek politisasi SARA, Poliitik Uang, Hoax, dan Fitnah yang kian marak itu ke depan jika tak dicarikan solusi akan merampas kedaulatan rakyat, dan merusak masa depan bangsa, dan negara.

“Apalah gunanya partisipasi pemilih meningkat, tapi Poliitik Uang, Hoax, Ghibah Fitnah juga makin marak ? Budaya dan Kebiasaan berdemokrasi seperti ini, menjadikan kita semakin tidak beradab, rakyat semakin tidak berdaulat, yang justru akan kian merusak masa depan bangsa dan negara kita sendiri. Jangan sampai terjadi demokratisasi seperti di negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara, Arab Spring 2011 yang langsung berubah jadi perang saudara, dan bencana kemanusiaan itu,” ujarnya.

Obor Pancasila dan Gerakan Kebajikan Pancasila

Oleh karena itu, menurutnya sangat penting selain penegakan hukum yang semakin dipertegas, juga bersama-sama menyalakan OBOR PANCASILA, membumikan kembali Pancasila dalam Pesta Demokrasi Pilkada Serentak 2020 nanti sebagaimana elan perjuangan Gerakan Kebajikan Pancasila, terutama :
1. JANGAN GOLPUT
2. LAWAN POLITIK UANG
3. ANTI HOAX, GHIBAH & FITNAH..

Sebagaimana diketahui bahwa Partisipasi Pemilih di Pemilu Serentak 2019 meningkat hingga 80% lebih, dibanding Pileg 2014 (75,11 %) dan Pilpres 2014 (69.40%).

Data KPU menyebutkan partisipasi pemilih di Pilkada Serentak 2015  Mencapai 70 Persen. Adapun tingkat Partisipasi Pemilih di Pilkada Serentak 2017 sebesar 74% dan di Pilkada Serentak 2018 Capai 73,24 Persen .

“Yang memprihatinkan kita adalah praktek Politik Uang, Poliisasi SARA, Praktek Hoax, Ghibah dan Fitnah justru meningkat juga. Ini menjadi tanggung jawab kita semua tentunya, dan semoga saja di Pilkada 2020 nanti partisipasi pemilih semakin meningkat lagi, serta terjadi penurunan praktek Politik Uang, Hoax, Ghibah, Fitnah serta Politisasi SARA,” harap Sabar Mangadoe T. (Igan)

 

Tinggalkan Balasan