Hormati Tokoh-tokoh NU dan dr. J. Leimena GMKI Surabaya Silaturahmi ke Ponpes Tebu Ireng

0
117
views
Pengurus GMKI Surabaya dan Gus Solah serta kaos bergambar dr. Johanes Leimena.

DDC, Jatim – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Surabaya menyerahkan kaos bergambar alm. dr. J. Leimena kepada Pengasuh Pindok Pesantren Tebu Ireng, Gus Solah di Tebu Ireng, Jombang-Jatim pada Minggu (05/04/2019).

Menurut Reza Ginting, salah seorang senior muda GMKI SURABAYA, kaos itu sebagai simbol penghormatan kepada KH. Hasyim Asyari, KH. Wahid Hasyim, Gus Dur, Gus Solah dan tokoh-tokoh NU lainnya yang selalu setia memperjuangkan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila.

“Kita mengunjungi Gus Solah di Ponpes Tebu Ireng untuk menyerahkan kaos bergambar wajar Alm. J.Leimena sebagai simbol penghormatan kepada KH. Hasyim  Asyari, KH. Wahid Hasyim, Gus Dur, Gus Solah dan tokoh-tokoh NU lainnya karena selalu setia pada Pancasila dan merawat Kebhinekaan kita,” terang Reza Ginting kepada DDC.

Senada dengan Reza Ginting, Jonatan Siagian menyatakan bahwa kunjungan pengurus GMKI Surabaya ini juga sekaligus untuk mengucapkan secara langsung kepada Gus Solah dan keluarga besar Ponpes Tebu Ireng, serta umat muslim Indonesia yang mulai menunaikan ibadah puasa.

GMKI Surabaya menyerahkan kaos bergambar dr. J. Leimena kepada Gus Solah.

“Selamat menunaikan ibadah Puasa kepada Gus Solah dan keluarga besar Pondok Pesantren Tebu Ireng serta umat muslim Indonesia,” ujarnya.

Dalam pertemuan itu mereka juga membicarakan tentang dr. J. Leimena, selain tentang tokoh-tokoh NU seperti KH Hasyim Asyari, KH. Wahid Hasyim, dan Gus Dur.

Sebagaimana diketahui, dr. Johanes Leimena (lahir di Ambon, Maluku, 6 Maret 1905, meninggal di Jakarta, 29 Maret 1977 pada umur 72 tahun) adalah salah satu pahlawan Indonesia dan merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat sebagai menteri kabinet Indonesia, serta satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus (15 kali).

Leimena masuk ke dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri, Wakil Menteri Pertama maupun Menteri Sosial. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya di TNI AL ketika menjadi anggota dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora.

“Sebagai generasi Kristen milenial, kami berupaya untuk tidak melupakan sejarah dan sekaligus ketokohan Alm. J. Leimena, yang bagi GMKI sendiri beliau merupakan pendiri Christelijke Studentenvereniging (CSV), cikal bakalnya GMKI, serta konsistensi tokoh-tokoh NU dalam menjaga dan merawat Pancasila serta Kebhinekaan kita,” timpal Edwin Ferdinand Thanos, rekan Reza,

Ketokohan J. Leimena terutama kejujurannya bahkan mendapatkan pengakuan dari Bung Karno (Bung Karno memang mengagumi sosok Johannes Leimena) seorang dokter kelahiran Ambon yang terlibat aktif dalam Sumpah Pemuda 1928.

dr. J. Leimena dan Bung Karno.

Kekaguman Sukarno itu dijelaskan dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2007) yang ditulis Cindy Adam.

“Ambilah misalnya Leimena, saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indra keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras seperti itu menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui,” kata Bung Karno.

Gagasan tentang Puskesmas

Saat menjabat menteri di tahun 1951, Om Jo (panggilan akrab J Leimena) bersama beberapa tokoh menggagas Bandung Plan. Dalam Bandung Plan itu dicetuskan ide untuk mengintegralkan institusi kesehatan di bawah satu pimpinan agar lebih efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan.

Gagasan itu pun ditindaklanjuti dengan membuat Tema Work dalam pelayanan kesehatan pada 1956, dan kemudian terus dikembangkan hingga integrasi institusi kesehatan itu sampai ke level kecamatan, dan dikenal sebagai Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

“Politik adalah Etika Melayani”

“Bagi beliau (dr Johannes Leimena)  politik bukan teknik untuk berkuasa, melainkan etika untuk mengabdi.”   Dr. H. Roeslan Abdulgani (Menko Hubungan dengan Rakyat, 1956-1957).

Kejujuran J. Leimena itu hingga membuat Bung Karno tujuh kali mengangkatnya sebagai pejabat presiden setiap kali Bung Karno melawat ke luar negeri.

Dalam pandangan Leimena, pertama-tama Politik bukan sebagai alat kekuasaan, tapi sebagai suatu etika untuk melayani. Jadi, tak heran bila Leimena dikenal sebagai politisi jujur dan berintegritas.

Meski begitu, di saat-saat tertentu Leimena juga menganjurkan untuk “berbohong”. Seperti dituturkan Sabam Sirait, politisi senior PDIP yang pernah sangat dekat dengannya. Leimena mengartikan “berbohong” dalam kaitan itu sebagai “menunda menyatakan kebenaran”. Kebenaran tetap harus disampaikan kepada publik, tapi tidak harus saat itu juga.

“Tidak semua yang kita tahu harus kita tulis atau katakan. Karena kalau kita tulis atau katakan, mungkin maksud kita berbuat baik: agar rakyat tahu, agar rakyat menjadi pintar. Tapi kebenaran itu punya akibat lain juga, kemungkinan akan menyebabkan perpecahan bangsa dan rakyat,” kata Leimena, seperti dituturkan Sabam Sirait pada suatu waktu.

J. Leimena juga menjadi pendiri Parkindo, Partai Kristen Indonesia di tahun 1945, serta membidani lahirnya Dewan Gereja-gereja di Indonesia, yang kemudian menjadi PGI (Persatuan Gereja-gereja di Indonesia).

Johannes Leimena meninggal dunia di Jakarta, 29 Maret 1977, di usia 72 tahun. (Igan)

Tinggalkan Balasan