SAKSIKANLAH, PERISTIWA ALAM TERBESAR DI SEMARANG

0
272
views

DDC, Jateng – Di semarang beberapa hari belakangan ini beredar leaflet ajakan sholat Jumat bersama Prabowo di Masjid Agung Semarang, alias Masjid Kauman. Sepertinya rencana Prabowo untuk sholat Jumat nanti adalah hal yang begitu menggemparkan dan menghebohkan. Hingga perlu disebar leafletnya.

Oh ya leaflet adalah salah satu bentuk publikasi singkat yang biasanya berbentuk selebaran, dan berisi keterangan atau informasi tentang sebuah perusahaan, produk, organisasi atau bentuk layanan lainnya yang perlu diketahui oleh khalayak umum.

Peristiwa yang jarang-jarang terjadi itu perlu diinformasikan ke seluruh kota Semarang, agar warga di sana menyaksikan sebuah fenomena alam yang langka. Mungkin terjadi hanya lima tahun sekali. Sama seperti isu rujuk yang juga terjadi lima tahun sekali. Itu juga sudah membuat pengikut Prabowo girang luar biasa.

Selama ini, tidak banyak orang yang berkesempatan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, peristiwa Prabowo Sholat Jumat. Oleh karenanya, panitia begitu berbaik hati agar seluruh warga Semarang bisa menyaksikannya.

“Bukan sulap, bukan sihir. Ini adalah salah satu dari keajaiban Pilpres. Ayo saksikan beramai-ramai di masjid Kauman, Semarang. Ajak sanak saudara. Ajak handai tolan. Jangan sampai ketinggalan,” begitu saya membayangkan jika tukang obat pinggir jalan mengumumkan sebuah informasi.

Tapi, ternyata ketua Masjid Agung Semarang merasa sebal. Sholat Jumat mestinya peristiwa biasa. Muslim lelaki, tiap Jumat ke masjid, itu biasa saja. Memang sudah seharusnya. Tapi kenapa ketika Prabowo mau sholat Jumat, pendukungnya malah membuat leaflet besar-besaran lalu disebarkan ke seantero Semarang. Ini mau Jumatan, apa mau kampanye?

KH. Hanief Ismail, ketua masjid, khawatir ibadah sholat Jumat yang mestinya khusyuk akan berubah menjadi ajang politik. Toh, selama ini sudah banyak tokoh yang sholat Jumat di Semarang. Tapi baru Prabowolah yang mau sholat Jumat, sudah nyebar leaflet kemana-mana.

Kyai Hanief khawatir masjidnya yang selama ini digunakan untuk berdekatan dengan Allah, lalu dipolitisir sedemikian rupa. Ibadah Jumat dijadikan sarana kampanye.

“Saya khawatir melanggar aturan yang melarang kampanye di rumah ibadah,” tuturnya. Diapun meminta Bawaslu untuk mengawasi.

Kyai Hanief cenderung tidak setuju dengan leaflet Jumatan itu. Kesannya memang sangat terasa kampanyenya.

Sebetulnya, yang namanya masjid, siapapun boleh saja sholat di sana. Wong, Presiden Jokowi saja kalau kunjungan kerja, tetiba kucluk-kucluk, mampir sholat. Kadang di mushola kecil, kadang di masjid di dalam gang, kadang di langgar yang karpetnya sedikit dekil. Atau di masjid yang lebih besar dan megah. Itulah tempat ibadah rakyat. Biasa saja.

Begitupun saat hari Jumat. Jokowi akan mampir ke masjid terdekat begitu masuk waktu sholat. Biasa saja. Jadi jemaah Jumatan layaknya muslim lainnya. Duduk di shaf bersama jemaah lainnya. Nyampur.

Rasa-rasanya gak pernah ada woro-woro Jokowi Jumatan di mana atau sholat Ashar dimana. Buat apa woro-woro untuk sebuah kegiatan yang rutin dilakukan? Melihat Jokowi sholat, ya lima kali sehari. Sama seperti kebanyakan muslim lainnya. Biasa saja. Gak ada yang istimewa.

Sedangkan, sholat Jumat bagi Prabowo tentu menjadi momen istimewa. Amat sangat wajar jika pendukung Prabowo perlu membuat leaflet besar-besaran. Momen Prabowo sholat Jumat, mungkin mirip dengan gerhana matahari total. Peristiwa alam yang gak rutin terjadi.

Jadi bagi warga Semarang, sepertinya mereka akan berkesempatan menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah di Indonesia. Sebuah fenomena alam. Mendekati keajaiban : Prabowo Sholat Jumat!

Luar biasa.

“Mas, ayo tebak, nanti wudhunya bakal divideokan apa gak?,” ujar Kumkum.

Penulis, Eko Kuntadhi.
Editorial, Yulius Leonarta Tarigan

Tinggalkan Balasan