Indahnya Bahasa Tanpa Kata, Pelukan Erat Buya Ma’arif dan Gus Mus

0
383
views
Indahnya Bahasa Tanpa Kata, Pelukan Erat Buya Ma'arif dan Gus Mus

DDC, Jakarta – Inisiator Gerakan Daulat Desa yang juga menginisiasi lahirnya Gerakan Kebajikan Pancasila, Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif berpelukan erat dengan Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang yang akrab dipanggil Gus Mus atau KH A. Mustofa Bisri.

Gus Mus memang sedang berada di Yogyakarta selama beberapa waktu. Usai melakukan takziah dan melepas jenazah KH Munawir Abdul Fattah, Pengasuh Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Gus Mus lalu melakukan kunjungan silaturahmi ke rumah dr.Alim, yang tinggal sekampung dengan Buya Syafii Maarif. Sang dokter berjanji mengantarkannya ke rumah Buya Syafii.

“Jumat Berkah: Sowan Tokoh Panutan Bangsa. Cendekiawan, jernih, jujur, berani, sederhanadan merdeka. Buya Syafii Maarif”.

Tulis Gus Mus, panggilan akrab Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini, setelah Jumatan, 28 Desember 2018, di akun facebook-nya.

“Begitu selesai Jumatan di Mesjid Nogotirto dekat rumah dr. Alim, dan baru saja selesai wiridan, Buya menghampiri dan memelukku erat-erat. Kami berpelukan cukup lama, melepas rindu,” tulis Gus Mus.

Tak cukup bertemu di masjid usaiJumatan, Gus Mus melanjutkan agenda silaturahimnya dengan mengunjungi kediaman Buya..

“Setelah mengambil anak-cucuku yang menunggu di rumah dr. Alim, kami pun beramai-ramai sowan Tokoh yang sangat kami hormati dan kagumi ini”.

Momen pertemuan kedua tokoh Islam Indonesia ini, menjadi catatan tersendiri bagi Alim, sang dokter pun mencatat hal itu sebagai “Bahasa Tanpa Kata” ketika keduanya saling berangkulan: pertanda persahabatan yang tulus dalam iman dan Islam, serta Keindonesiaan.

Berikut catatan yang dilansir di akun facebook Alim:

BAHASA TANPA KATA

Selesai dzikir sebentar bakda shalat Jumat, segera saya hampiri Buya di sisi utara dalam masjid. Memberanikan diri mengganggu dzikir Buya, saya salim lalu bilang, “Buya, Gus Mus di sana.” sambil saya tunjuk tempat duduk Gus Mus.

Tampak senyum cerah di wajah Buya menatap ke arah seseorang berambut putih, berpeci dan berbaju hitam yang tengah duduk bersila di seberang sana.

“Saya ke sana”, kata Buya, lalu meneruskan dzikir sebentar. Saya duluan ke sisi selatan masjid, mendekat ke Gus Mus.

Duduk di belakang kiri Gus Mus yang sedang wirid, saya tengok ke arah Buya. Ternyata Buya menyusul saya tidak terlalu jauh. Tepat sekali Gus Mus selesai wirid, saya bisikkan, “Abah, Buya ke sini”.

Gus Mus menengok, tersenyum gembira dengan mata berbinar-binar, lalu berdiri menyambut Buya.

Di depan mata saya, bertemulah dua tokoh besar bangsa ini dengan wajah haru..

Keduanya berucap lirih tapi mantab, “Assalaamu’alaikum”, langsung berpelukan erat-erat… seakan tak ingin lepas. Lamaaaa sekali.

Saya rasakan, ada dialog batin antara keduanya dalam pelukan dan mimik haru itu. Tentang kerinduan yang dalam, tentang kegelisahan, tentang nasib bangsa ini, tentang kebahagiaan, tentang Tuhan….

Demikianlah, momentum indah, peristiwa kemanusiaan yang tulus dalam menyaksikan Indonesia yang sedang mereka prihatinkan ini. (DDC,Igan)

Sumber, ngopibareng.id

Tinggalkan Balasan