Bumerang! Senjata Makan Tuan!

0
388
views

DDC, Jakarta – Senjata makan tuan! Itulah penggambaran yang paling tepat, bagi mereka yang selama ini suka mengkafir-kafirkan orang lain. Mereka itulah yang mengklaim paling berhak menentukan surga-neraka. Jika kamu tak mengikuti apa maunya mereka, dengan enteng mereka memastikan kamu masuk neraka jahanam. Demikian sebaliknya logika yang terus mereka bangun.

Itulah mengapa, buat saya, sulit mempercayai seorang “ahli agama” yang mencari suara untuk politik. Dan, seorang politikus yang mencoba mengajari cara bagaimana beragama.

Apakah kemudian agama dan politik itu harus dipisahkan?

Pada konteks berbangsa dan bernegara, Agama dan Politik memang tak bisa dicampuradukan. Harus terpisah. Kesepakatan itu sudah final, dalam bentuk UUD’45 dan Pancasila.

Agama tetap diperlukan sebagai wilayah personal. Guna menuntun perilaku berpolitik agar sesuai norma agama yang dianut seseorang.

Jadi jika timbul masalah dalam berbangsa dan bernegara, kembalikanlah pada dasar negara. Masuk wilayah aturan horisontal. Dan jika ada perbedaan tafsir beragama, kembalikan pada Al-Qur’an dan hadist. Atau kitab suci yang dianut seseorang, atau kelompok. Dan itu wilayah privat. Vertikal.

Saya pun sejatinya kurang sreg, jika Prabowo “diserang” pribadinya (pada konteks kemampuan beragamanya). Bagaimana PS dibully soal lafal SAW, pertanyaan soal bisa sholat (apalagi sebagai imam) dan mengaji, hingga bagaimana cara berwudlunya itu. Semua dikuliti yang bagi saya itu tidak pas, dan kurang proporsional pada konteks berdemokrasi.

Namun saya menjadi maklum ketika Prabowo sendiri menampilkan dirinya sebagai sosok islami. Kemana-mana pakai kethu (peci), yang bisa diasosiakan oleh kebanyakan orang, sebagai muslim yang taat. Sebagai calon pemimpinnya, wajar kemudian orang ingin tahu lebih mendalam.

Lantas bagaimana mungkin terjadi, ada sekelompok ulama yang tergabung dalam GNPF bisa beritjima’ merekomendasikan PS menjadi pemimpin (Presiden)? Mengapa aktivitas 212 itu, yang mengklaim sebagai sebuah kegiatan keagamaan, tapi ujung-ujungnya berpolitik dengan meneriakkan “Prabowo Presiden”?

Jika begitu adanya, publik juga berhak menguliti tentang apa, siapa dan bagaimana seorang Prabowo itu, bukan?

Jangan kemudian ketika mengusung Prabowo, mereka berteriak kencang mengkafirkan-kafirkan yang lain. Menuding rivalnya (Jokowi) tidak islami. hobi mengkriminalisasikan ulama, dst. Bahkan dituding sebagai PKI, dan bertakbir atas dan demi nama kebesaran dan kemuliaan Gusti Allah Swt.

Tapi ketika rekomendasinya hendak ditelisik lebih mendalam, mereka bilang “Jangan sok ahli beragama. Kadar keimanan seseorang itu, hanya Tuhan yang berhak menilai”, begitu kelitnya.

Ambivalensi sikap ini, menunjukkan bagaimana mereka tak mampu bersikap konsisten. “Main suke-suke gue aje”. Bayangkan saja bagaimana lima tahun kedepan, jika kelompok orang “suke-suke gue ini” menjadi bagian dari tim kemenangan Prabowo?

Jadi, “siapa yang menabur angin, akan menuai badai dan siapa yang suka mengkafirkan orang, akan ditemui Nenek Lampir”.

Itu sudah konsekuensi logis, dan itulah yang disebut bumerang! Hodiiiiiii…..

Penulis, Diding Sukowiradi, penulis buku Foolitik.
Editorial, Yulius L Tarigan.

Tinggalkan Balasan