Emas, Pencak Silat dan Silat Lidah Politikus

0
315
views
Emas, Pencak Silat dan Silat Lidah Politikus

DDC, Jakarta – Medali emas dari cabang pencak silat Asian Games 2018, yang diraih atlit Hanifan Kusumah Yudani telah memberikan pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia, khususnya para politisi.

Persatukan Jokowi-Prabowo

Hanifan tak hanya sekedar menambah pundi-pundi medali emas ke-29 bagi kontingen Indonesia, tapi ia bahkan dengan cerdas, menggunakan momentum itu untuk mempersatukan dua tokoh politik utama bangsa saat ini, Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Pertarungannya melawan pesilat Vietnam, Nguyen Thai Linh berlangsung ketat. Beberapa kali kedua pelatih mengajukan protes karena menganggap adanya pukulan atau tendangan yang dianggap tidak sah.

Kemenangan Hanifan pun ditentukan di detik-detik akhir. Lewat beberapa pukulan dan tendangan, Hanifan mendapatkan nilai dan unggul tipis di akhir laga, 3-2.

Setelah wasit mengangkat tangannya sebagai pemenang, Hanifan lalu berlari menuju sang pelatih. Ia pun melompat untuk digendong pelatihnya. Kemudian, Hanifan berlari ke tribun VIP, mendatangi Jokowi dan Prabowo.

Tanpa ragu-ragu, pesilat muda itu langsung merangkul Jokowi dan Prabowo.

Momen langka nan bersejarah itu pun tercipta, mengingat Jokowi dan Prabowo yang saat ini tengah menuju persaingan politik Pilpres 2019 dan cenderung seolah saling berseteru karena kepentingan politik.

Kedua calon presiden itu pun tak kuasa larut dalam kegembiraan, ketiganya dibalut Sang Dwi Warna, bendera merah putih yang dikalungkan Hanifan, sebuah momen bersejarah yang mempersatukan banyak anak bangsa, telah lahir dan hadir menghiasi media serta menjadi trending topik.

Persatukan Bangsa

Kita tentu berharap, agar segenap pihak mengenang momen berpelukan ketiganya itu di masa Pilpres 2019 nanti. Tetap mengingat bahwa persatuan bangsa jauh lebih penting daripada kepentingan politik identitas yang telah mengadu-domba sesama anak bangsa, sehingga tercipta identitas Cebong dan Kampret yang cenderung merusak rasa persatuan itu.

Khususnya bagi para politikus yang cenderung “memanfaatkan, hingga terus mengompori” kedua kubu, Cebong dan Kampret itu, agar tetap berseteru, sehingga si politikus tetap mendapatkan popularitas berikut kepentingan politik lainnya. Belajarlah dari momen berpelukan yang mempersatukan bangsa itu.

Pencak Silat dan Silat Lidah

Wahai politikus, para ahli bersilat lidah, belajarlah dari Pencak Silat sebagai sebuah seni bela diri yang menghargai sportivitas. Walaupun terjadi adu kontak fisik, namun dalam seni bela diri pencak silat pada akhirnya menjunjung tinggi semangat fairplay, bertanding secara fair berdasar peraturan yang ada. Tak boleh menyerang titik-titik tertentu misalnya.

Berdasar pada aturan itulah maka dalam pertarungan pencak silat pada akhirnya, para pesilat tak hanya dinilai kemampuannya dalam menyerang dan bertahan, namun juga semangat sportivitas, semangat jiwa kependekaran yang diidentikan dengan ketaatan pada aturan yang telah disepakati bersama.

Semangat itu memang berbeda jika kita melihat, dalam sebuah acara di stasiun televisi yang mengeksploitasi Silat Lidah Politik, yang walaupun dalam judul acaranya dipoles lipstik syantik profesi yang seharusnya taat pada hukum dan aturan. Namun dalam prakteknya adu silat lidah mereka jauh sekali dari semangat taat pada peraturan, menyedihkan dan sekaligus memalukan sebetulnya.

Syukurlah, melalui momentum emas pencak silat dan berpelukannya Jokowi-Prabowo serta pesilat Hanifan tadi malam, kita seolah diingatkan kembali sebagai sebuah bangsa. Bahwa Jurus tersakti adalah yang mempersatukan bangsa, bukan yang mengadu domba, memecah belah persatuan. Bukan politik adu domba dalam kemasan label istilah “politik identitas” yang halalkan segala cara, mengkotak-kotakan dan memecah belah persatuan sesama anak bangsa, sebagaimana yang dilakukan oleh para penjajah bangsa dahulu hingga kita terjajah selama ratusan tahun lamanya.

Dari emas pencak silat, kita boleh menggali pelajaran seberharga dan secemerlang cahaya emas itu sendiri, cahaya persatuan bangsa menuju kejayaan bangsa.

Penulis, Yulius L Tarigan, Tukang Ojol yang mengais serpihan emas di atas panasnya aspal kehidupan.

 

Tinggalkan Balasan