Sejarah Bra, BH, Beha, Kutang di Dunia

0
1480
views
Sejarah BH atau Bra. Ilustrasi.

DDC, Jakarta – Apa itu kepanjangan dari BH dan bagaimana sejarahnya..?? BH, salah satu hasil budaya manusia eropa (Yunani) yang telah menjadi bagian dari peradaban dunia saat ini.

Sejarah awal
Beha atau yang disingkat dengan abjad, BH, adalah pakaian dalam yang khusus dipakai kaum wanita yang memiliki fungsi menyangga atau menopangnya. Istilah BH merupakan kependekan dari kata bahasa Belanda, yakni “Buste Houder“, yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia hanya singkatannya saja.

Sedangkan varian lainnya yang lebih lokal, adalah kata : “penutup dada”, “kutang”, “kacamata” (bahasa gaulnya). Namun sekarang ini kata “Bra” sudah mulai menggeser kata “BH” ini. Kata bra berasal dari bahasa Perancis “Brassiere” dan kemudian diterima ke dalam bahasa Indonesia melalui bahasa Inggris.

Sejarah bra atau BH terlacak sejak 2500 tahun sebelum masehi. Saat itu para wanita di pulau Kreta, Yunani, telah menggunakan pakaian sejenis bra di luar pakaian mereka untuk mengangkat payudaranya.

Pada tahun 450 sebelum masehi, wanita Romawi menggunakan semacam kemben untuk mengatur ukuran dan posisi payudara mereka.

Mary Phelps Jacob, mulai memperkenalkan bra modern yang pertama sejak 1910.

Pada tahun 1893, Marie Tucek tercatat pada kantor hak paten Amerika Serikat sebagai pencipta breast supporter, pakaian yang amat mirip dengan modern bra, atau BH modern seperti yang ada saat ini. Pada tahun 1912 istilah brassiere tercantum dalam Oxford English Dictionary.

Modern bra pertama kali dipatenkan pada tahun 1914 oleh seorang sosialita asal New York bernama Mary Phelps Jacob. Awalnya Ia berpikir, bahwa kaum perempuan harus menemukan alternatif untuk membungkus dada mereka. Oleh sebab itulah, Mary Phelps Jacob, mulai memperkenalkan bra modern yang pertama sejak 1910.

Suatu saat, ia ingin menghadiri sebuah pesta besar dengan mengenakan gaun malam tipis berpotongan dada rendah. Rangka korset dari tulang ikan hiu yang hendak dikenakannya mengganggu keindahan gaun yang dipersiapkan sejak jauh hari itu. Maka bersama salah seorang pelayannya, dia membuat pakaian dalam dari 2 sapu tangan sutra yang disatukan dengan pita merah muda, desain ini kemudian menjadi populer di lingkaran pergaulan Mary Phelps Jacobs, dan kemudian dipatenkannya pada 1914.

Ia menjual hak patennya pada Warner Brothers Corset Company di Connecticut, Amerika Serikat, seharga $1,500. Di kemudian hari perusahaan tersebut menghasilkan lebih dari 15 juta dolar dari penjualan modern bra tersebut.

Perubahan Gaya, Model dan Ukuran
Trend fashion kemudian bergeser dari bentuk tubuh montok (yang dimodifikasi dengan menggunakan korset) ke bentuk tubuh kurus dengan dada lebih rata. Gaya yang dianggap modern saat itu adalah gaya busana perempuan yang dibuat praktis tanpa menggunakan banyak bahan, dan membuat perempuan lebih mudah bergerak.

Pergeseran tren ini juga dikarenakan dengan semakin aktifnya perempuan di berbagai lapangan pekerjaan. Perempuan yang mengikuti fashion, yang dianggap mencerminkan pemberontakan itu kemudian disebut flapper. Bra. Dengan bentuk terbaru ini kemudian mulai diproduksi secara massal pada 1920-аn. Tapi produksi masal itu belum memperhatikan ukuran individual masing-masing perempuan. Baru pada tahun 1922 perempuan bisa mengenakan bra dengan lebih nyaman ketika Ida dan William Rosenthal merevolusi bentuk bra.

flapper Bra diproduksi massal pada tahun 1920.

Ida dan William menciptakan ukuran baku bra yang terdiri dari lingkar linear rusuk dan ukuran volume dada (cup size) dengan menggunakan kode abjad (A, B, C, D) dan seterusnya. Ukuran A sama dengan delapan ons cairan, sementara B setara dengan 13 ons, dan C sama dengan 21, dan seterusnya. Ida dan William kemudian mendirikan perusahaan bra Maidenform yang sukses luar biasa, dan menjadikan pasangan Rosenthal jutawan. Perusahaan Bra Maidenform masih berdiri hingga sekarang.

Bra Maidenform produksi Ida and William Rosenthal

Bra menjadi bagian dari busana sehari-hari perempuan hingga muncul revolusi pemikiran tentang peran perempuan di Amerika, revolusi ini dimulai ketika buku Feminine Mystique karya Betty Friedan terbit pada 1963. Buku itu mempertanyakan peran perempuan yang seolah dikembalikan ke ranah domestik oleh sistem masyarakat ketika itu.

Hal ini berlanjut hingga 1970-аn di mana protes atas ikon-ikon yang dianggap mengekang perempuan dipertanyakan oleh kaum feminis. Germaine Greer, salah seorang feminis intelektual, menyatakan bahwa, “Bra adalah sebuah ciptaan yang menggelikan.”

Sebagai dukungan atas pemikiran itu, banyak perempuan memutuskan untuk tak lagi mengenakan bra. Sedikit banyak hal ini cukup memukul industri bra. Ida Rosenthal, sang industrialis pakaian dalam, hanya menjawab dengan santai, “Kita berdemokrasi. Sah-sah saja kalau orang berpakaian atau telanjang. Tapi setelah usia 35, bentuk tubuh perempuan tak mendukungnya jika tidak mengenakan bra. Waktu berpihak kepada saya.” Belakangan kata-kata Ida itu terbukti ada benarnya.

Meski sempat mengalami hambatan, industri bra terus berkembang. Apalagi ketika Madonna mengenakan sebuah kostum bra yang meruncing di bagian dada. Kostum itu dibuatkan khusus oleh perancang Prancis Jean-Paul Gaultier untuk tur Blonde Ambition pada 1990.

Madona cup bra, karya Jean-Paul Gaultier, tur Blonde Ambition 1990.

Di Indonesia
Pada awal abad ke-19, menutup dada modern ini belum jadi kelaziman di Indonesia. Kebiasaan mengenakannya diperkenalkan oleh Belanda. Dalam novelnya, Pangeran Diponegoro, Remy Sylado menjelaskan asal-muasal istilah kutang.

Saat itu, dalam proyek pembangunan jalan raya pos Anyer-Panarukan, Belanda mempekerjakan budak perempuan dan laki-laki. Don Lopez, seorang pejabat Belanda, melihat budak perempuan bertelanjang dada, dia kemudian memotong secarik kain putih dan memberikannya kepada salah seorang di antara mereka sembari berkata dalam bahasa Perancis: “tutup bagian yang berharga (coutant) itu.” Berkali-kali dia mengatakan “coutant.. coutant..!!” yang kemudian terdengar sebagai kutang oleh para pekerja.

Sebelumnya, kebiasaan berpakaian kaum wanita Indonesia umumnya menggunakan kain panjang atau kemben untuk menutupi bagian dadanya. Kemben adalah pakaian tradisional pembungkus tubuh wanita yang secara historis umum ditemui di daerah Jawa dan Bali, Indonesia. Kemben dapat berupa sepotong kain yang membungkus tubuh, baik kain yang polos, kain batik, beludru, atau jenis kain lain yang menutupi dada melilit tubuh wanita.

kemben.

Kemben secara tradisional dikenakan dengan cara melilitkan sepotong kain menutupi batang tubuh bagian atas, tepi dilipat dan disematkan, diikat dengan tambahan tali, ditutupi dengan angkin atau selempang yang lebih kecil di sekitar perut. Jenis kemben batik tradisional dipakai oleh sebagian besar wanita istana di kraton. Hari ini, ada juga kemben ketat yang dilengkapi atau disematkan dengan menggunakan kancing, tali atau resleting yang serupa dengan korset gaya Barat. Kemben untuk wanita penari tradisional Jawa (srimpi atau wayang wong) biasanya dibuat dari korset beludru yang dijahit.

Kemben mirip dengan cara berpakaian décolletage Eropa, namun yang membuatnya lebih bergaya asli Indonesia adalah penggunaan kain lokal seperti batik, ikat, tenun, atau songket, dan hanya disematkan dengan melipat tepi pakaian yang diselipkan atau dengan cara mengikat simpul tali pengikat. Secara tradisional, wanita Jawa memakai dua potong kain; pakaian bawahan membungkus di sekitar pinggul yang menutupi bagian bawah tubuh (pinggul, paha dan kaki) dan disebut sebagai kain jarik atau sarung. Sementara sepotong kain yang membungkus tubuh bagian atas (dada dan perut) disebut kemben. Kemben nyaman dipakai pada iklim tropis Indonesia yang panas dan lembab, karena memudahkan ventilasi udara dan penguapan keringat.

Di berbagai negara Bra atau BH disebut dengan cara berbeda-beda. di Perancis, penahan dada itu disebut soutien-gorge (penopang tenggorokan), di Spanyol sujetar (menopang), di Jerman bustenhalter, di Swedia bysthallare, dan di Belanda bustehouder. Semuanya bermakna penopang dada. Sementara dalam bahasa Esperanto (Rusia) bra disebut mamzono yang artinya sabuk dada.

Demikianlah sejarah Bra atau Beha, BH atau Kutang, yang disarikan dari beragam sumber. Pada dasarnya Beha berfungsi untuk mencegah payudara menjadi kendur, menjaga kekencangan payudara, dan menutupi payudara itu sendiri. Seiring dengan berjalanya waktu, beberapa produk beha juga menambahkan fungsi beha yaitu untuk memperbesar dan mengencangkan payudara si pemakai dan berbagai macam fungsi lainnya. (DDC-Igan)

Disarikan dari beragam sumber.
Penulis dan editor, Yulius L Tarigan.

Tinggalkan Balasan