Belajar dari Desa Wisata Winduaji di Brebes

0
308
views
Waduk Penjalin desa Winduaji Brebes.

Daulatdesa.com, Jateng – Desa Winduaji, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes sukses menyabet juara 2 pada Festival Desa Wisata tingkat Jawa Tengah 2018 baru-baru ini. Festival yang diselenggarakan di alun-alun Bung Karno, Ungaran sejak Jumat – Minggu (13 – 15/7/2018) itu diikuti perwakilan desa wisata, 33 dari total 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Pejabat (Pj) Kepala Desa Winduaji, Seger mengaku bangga atas pencapaian prestasi di tingkat provinsi ini.

“Alhamdulillah, kami atas nama masyarakat Desa Winduaji tentu merasa sangat bangga dan gembira atas prestasi ini. Terimakasih pada warga Desa Winduaji, apresiasi untuk 33 personel yang kami bawa dalam festival ini” kata Seger usai menerima hadiah tropi dan uang pembinaan Rp 12,5 juta dari Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Minggu (15/7/2018) siang.

Lebih lanjut diterangkan dalam festival tersebut Desa Winduaji memamerkan berbagai macam potensi wisata, mulai dari obyek wisata, kuliner hingga seni dan budaya khas desanya.

“Untuk potensi daya tarik wisata, kami memperkenalkan Waduk Penjalin, wisata tuk Sirah Pemali dan wisata petualangan Wadas Mlasah”  jelasnya.

Sedangkan di bidang kuliner antara lain berbagai olahan ikan betutu (salah satu ikan khas di Waduk Penjalin –red), bestak melinjo, hingga kopi asli Desa Winduaji.

“Ada kopi khas Dusun Karang Anyar dengan luasan lahan 50 hektar dibuat dengan campuran rempah-rempah, yang menghasilkan aroma khas” ungkapnya.

Di bidang seni dan budaya juga ditampilkan stand pembuatan tokoh wayang kulit oleh dalang asli Desa Winduaji, Ki Suwarto.

Objek wisata waduk Penjalin, sangat kekinian dn menarik bagi anak muda.

Yang tidak kalah menarik, kata Seger pihaknya juga menampilkan sendratari Yu Welah dan Mas Jukung, yang mengisahkan legenda pembuatan Waduk Penjalin.

Welah dan Jukung adalah salah satu moda transportasi yang melegenda di Waduk Penjalin. Jukung adalah perahu khas masyarakat Desa Winduaji terbuat dari kayu, sedangkan Welah adalah dayungnya. Maka Welah dan Jukung juga sebagai perlambang keseimbangan, serta simbol persatuan dan kesatuan. Jukung tanpa welah, akan kesulitan. Begitupun sebaliknya” terangnya.

Tidak ketinggalan dalam sendratari itu juga menampilkan legenda Kaki Dayun, sosok kharismatik yang tidak lepas dari perjalanan legenda Waduk Penjalin.

“Kaki Dayun sebagai sosok yang baik, tokoh berwibawa yang turut menjaga Waduk Penjalin. Melalui penampilan sendratari ini kami berharap memunculkan semangat baru untuk menjaga dan melestarikan Waduk Penjalin, dan mengambil manfaat dari potensi yang ada di dalamnya” tuturnya.

Berselfie adalah kebutuhan wisata saat ini

Ditambahkan Seger, dengan pencapaian prestasi ini Pemerintah Desa Winduaji akan semakin serius mengembangkan Winduaji sebagai Desa Wisata andalan.

“Apalagi Desa Winduaji sebagai desa wisata juga merupakan binaan dari Fisip Unsoed Purwokerto dan IT Telkom Purwokerto. Prestasi ini menjadi pemacu dan semangat kami untuk  terus mengembangkan potensi wisata yang ada di Winduaji” imbuhnya.

Juara pertama ajang ini diraih oleh Desa Kandri Kota Semarang, sedangkan juara ketiga diraih oleh Desa Karang Banar, Kabupaten Cilacap.

Desa Winduaji sukses membenahi Waduk Penjalin oleh relawan pemuda yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata Waduk Penjalin (Pokdarwis WP), kini sebuah obyek wisata alami bernuansa hutan pinus jadi salah satu andalan, Pemali Oasis Forest (POF). Kesejukan hutan pinus yang berpadu dengan tuk (mata air -red) yang masih jernih menjadi daya tarik utama obyek wisata ini.

Hutan pinus desa Winduaji

Basudin Abu Tholib, tim pengelola wana wisata POF dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Winduaji menuturkan lokasi ini sebenarnya merupakan obyek wisata yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

“Obyek ini sudah ada sejak 25 tahun lalu, lebih dikenal sebagai Tuk Sirah. Namun karena minim perawatan dan pengelolaan ya akhirnya sepi dan lama-lama ditinggalkan pengunjung” kata Basudin.

Melihat potensi pemberdayaan ekonomi kerakyatan sekaligus upaya pelestarian hutan lindung di daerah Sirah sungai Pemali, akhirnya digagas kembali upaya pembenahan obyek ini.

“Kami bersama tim pengelola bekerja marathon sekitar 20 hari untuk memoles lagi obyek wisata tuk Sirah agar sesuai dengan tema-tema destinasi wisata kekinian yang instagramable. Kerja ini juga melibatkan KPH Pekalongan Barat 14 hektar. Keseluruhan waktu yang dibutuhkan sekitar 1 tahun” ujarnya.

Lebih lanjut untuk tahap awal, pembenahan fokus pada pembersihan lokasi wisata, penambahan wahana, termasuk aksesoris dan tempat swafoto (selfie).

“Ada wahana mainan anak, mandi air, tuk bening yang konon bisa menjaga awet muda, joglo, dan pemandangan alam pohon pinus yang sangat memesona, juga area parkir mobil maupun motor yang sangat luas” ungkapnya.

Perpaduan tuk sungai  Pemali di tengah hutan pinus itulah yang melatarbelakangi perubahan nama obyek ini menjadi Pemali Oasis Forest.

“Tuk Sirah sungai Pemali itu ada di hutan pinus, maka lengkaplah sudah, wisata yang air dan hutannya, Pemali Oasis Forest” imbuh Basudin.

“Tuk sirah kali Pemali” berasal dari kata tuk dan sirah (bahasa jawa) yang bermakna mata air kepala, dan kata pemali berasal bahasa sunda,  dari kata pamali yang bermakna pantangan atau larangan. Penamaan ini disebabkan tuk sirah merupakan sumber mata air yang utama bagi sungai pemali.

Akses menuju POF juga sangat mudah dijangkau karena terletak hanya 300 m dari akses jalan utama Nasional, Paguyangan – Brebes, dengan tiket masuk yang sangat terjangkau.

“Mudah sekali aksesnya, dari arah Tegal maupun Purwokerto, berhenti di depan PGT (Pabrik Gondorukem dan Terpentin) Winduaji, lalu naik sekitar 300 meter di atas PGT. Tiket masuk hanya 5.000 rupiah dan parkir 2.000 rupiah” terangnya.

Ditambahkan Basudin, POF secara resmi dibuka pada Minggu, 17 Juni 2018 kemarin yang dimeriahkan Festival Payung, Parade Kenthongan dan lainnya. Harapan kami dengan dibukanya kembali obyek wisata ini akan turut memeriahkan pariwisata Desa Winduaji sekaligus semakin memopulerkan Winduaji sebagai desa wisata andalan Kabupaten Brebes bagian selatan” pungkasnya. (DDC-Igan, rri)

Tinggalkan Balasan