Joki Test Masuk STAN Diduga Pasang Harga Minimal Rp 100 Juta

0
478
views
Peserta tes pendidikan ikatan dinas, Politeknik Keuangan Negara, Sekolah Tinggi Administrasi Negara (PKN STAN) tak bisa berkutik ketika aksinya terbongkar saat mengikuti tes (ilustrasi gambar)

Daulatdesa.com, Sulsel – Praktek curang dengan menggunakan jasa Joki kembali terjadi di dunia pendidikan dan melibatkan delapan peserta tes pendidikan ikatan dinas, Politeknik Keuangan Negara, dan Sekolah Tinggi Administrasi Negara (PKN STAN). Delapan peserta itu ketahuan menggunakan jasa seorang Joki saat mengikuti tes.

Mereka sempat lolos dari pemeriksa pengawas ujian sebelum tes dimulai, kali ini modusnya cukup rapi dan profesional. Mereka menggunakan kamera mini yang terhubung dengan gawai.

Kepala Kantor Regional IV Makassar, Badan Kepegawaian Negara (BKN) Sayadi membeberkannya, kedelapan orang itu memasang kamera kecil di lengan bajunya, kamera itu dihubungkan dengan gawai yang diselipkan dalam pakaian dalam mereka.

“Kamera ini fungsinya untuk menyorot soal di layar monitor, gambar yang terekam kamera tersebut terhubung ke gawai yang sudah disetel khusus. Hasil rekaman itu juga terhubung dengan gawai yang dikendalikan orang dari luar,” terangnya.

Ponsel mereka terhubung dengan aplikasi WhatsApp, lalu ada beberapa rangkaian kabel dari ponsel yang terhubung ke telinga peserta. Kamera itu menghubungkan orang yang akan memberikan jawaban ujian lewat ponsel.

Aksi curang peserta tersebut terbongkar saat mengikuti tes tanggal 29 Juni dan 2 Juli lalu, namun untuk kepentingan pengembangan, BKN baru merilisnya kemarin. Beberapa pelaku diketahui anak pejabat daerah. Salah satunya dari Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Identitas delapan orang itu masih dirahasiakan dengan alasan masih pengembangan.

Sayadi mengakui, aksi ini memang sempat tak terpantau pemeriksa. Apalagi peserta perempuan ini mengenakan jilbab, sehinga semua tertutup. Kameranya sangat kecil, sesaat sebelum tes dimulai peserta yang berlaku curang tersebut sempat izin keluar ke kamar kecil. Aksi mereka ketahuan saat ponsel salah satu peserta berbunyi. Pengawas langsung memeriksa dan ternyata di balik pakaian dalam mereka ada perangkat yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang luar.

Delapan peserta yang diamankan karena mencoba cara curang itu masing-masing berinisial AS, NU, AT, NS, NL, DY, HK, dan AR. Semuanya perempuan dan beberapa anak pejabat daerah. Namun mereka kompak bungkam saat ditanya uang jasa yang disetor kepada joki.

Kemudian pihaknya melaporkan ke Polda Sulsel agar ditindaklanjuti pada Selasa (3/7/18) kemarin. Kedelapan calon pelajar ikatan dinas ini pun langsung dinyatakan gugur, tak lagi bisa ikut seleksi lanjutan yang dilakukan secara online.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol. Dicky Sondani mengatakan, sejauh ini penyidik masih menelusuri terkait laporan kecurangan peserta tes di STAN tersebut.

“Perbuatan itu adalah penipuan karena berbuat curang. Kita akan proses orangnya,” katanya.

Penyidik akan menelusuri jaringannya dengan menggunakan Cyber Crime Polda Sulsel. Otak pelaku di balik kecurangan delapan peserta tes masuk Politeknik Keuangan Negara, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (PKN-STAN) itu akhirnya terungkap. Praktik curang tersebut rupanya didalangi joki profesional berinisial Jy.

Joki ini memanfaatkan perangkat teknologi untuk membantu peserta tes menjawab soal ujian dari luar ruangan ujian.

Sayadi mengungkapkan, dari hasil interogasi delapan peserta yang tertangkap, semua mengaku bekerja sama dengan Jy. “Katanya Jy tinggal di BTP. Dia pemain lama. Jy juga sering terlibat untuk membantu peserta tes masuk perguruan tinggi negeri dan tes CPNS,” ungkap Sayadi.

Menurut Sayadi, biasanya setiap peserta yang menempuh cara seperti ini, menyetor uang jasa minimal Rp 100 juta kepada joki. Mereka baru akan menyetor dana sesuai perjanjian jika sudah ditetapkan lulus.

“Makanya kami laporkan ke Polda Sulsel. Mereka pasti akan dipanggil, termasuk Jy. Saya sudah komunikasi ke Polda Sulsel, katanya Jy ini memang sering terlibat kasus seperti ini,” terangnya..

Delapan peserta tersebut sudah dicoret dari daftar peserta tes masuk PKN STAN 2018. Meski sudah dilaporkan ke polisi, mereka masih diizinkan pulang ke rumah masing-masing. (DDC-Igan/Sumber, JPN)

Tinggalkan Balasan