Awas Bahaya Radikalisme di Kampus-kampus

0
1524
views

Daulatdesa.com, Jakarta – Ini satu tulisan kisah nyata, pengalaman dari seorang yang pernah bersinggungan langsung dengan kelompok berpemahaman radikal. Tulisan ini diposting di akun Fesbuknya pada hari Jumat (18/5/18) kemarin. Daulatdesa.com menayangkan tulisan ini agar pengalamannya itu menjadi pembelajaran bagi segenap pihak.

“BERSAMA JAMAAH RADIKAL”

Kisah ini bermula pada 1997, saat itu saya adalah mahasiswa tingkat awal di sebuah Universitas di kota Semarang. Ini merupakan pertama kalinya saya jauh dari rumah dalam waktu yang cukup lama. Saya ‘ngekost’ di kelurahan Lempongsari Timur, Semarang. Karena jadwal perkuliahan saat itu hanya di pagi hari, maka kebanyakan waktu saya habiskan di masjid dan kost. Setelah beberapa bulan sering berkegiatan di masjid bersama kawan-kawan kuliah, maka hampir seluruh kegiatan masjid di situ kita yang mengelolanya.

Suatu saat, datanglah sekelompok jamaah yang berjenggot dan bercelana cingkrang, tinggal dimasjid tersebut. Pada awalnya tidak ada yang berbeda, apa yang saya pelajari di rumah (orang tua dan pesantren) sama seperti yang mereka ajarkan. Maka kita sering berjalan bersama, mengadakan pengajian rutin di masjid tersebut, yang akhirnya berkembang sampai ke masjid-masjid yang lain.

Waktu itu kadang saya yang mengisi pegajian, kadang orang-orang tersebut, dan ada beberapa anggota lain juga yang mengikuti kita. Sebagai anak muda yang baru keluar dari rumah dan mengisi pengajian-pengajian di masjid, saat itu saya lumayan merasa berbangga diri dan kian hari kian bersemangat.

Namun setelah berjalan kurang lebih tujuh bulan, mulai ada perubahan dari pembicaraan-pembicaraan tentang agama.
Orang-orang itu mulai menggunakan ayat dan hadist tentang jihad, yang pada intinya, harta kita itu semua adalah titipan, dan harus kita jihadkan di jalan Tuhan. Mereka mencontohkan beberapa kawan yang telah berangkat ke medan perang di Timur Tengah dengan biaya sendiri, dan contoh-contoh lain yang pada intinya “kita harus merelakan harta dan nyawa kita untuk jihad di jalan Tuhan.”

Syukur Alhamdulillah, pelajaran yang saya terima sejak kecil sudah cukup tertanam. Apa yang mereka bicarakan dan diskusikan mulai kucerna masak-masak, kita semakin gencar bicara tentang jihad pada saat itu. Dalam hati saya mulai berontak, dan saya selalu berargumen pada orang-orang tersebut, bahwa apa yang mereka katakan itu menyimpang dari ajaran Agama yang saya pelajari sejak kanak-kanak. Namun mereka tetap berusaha menguasi pemikiran saya dengan segenap cara.

Saya semakin merasa sangat tidak nyaman, dan akhirnya mengambil keputusan untuk keluar dari jamaah tersebut. Namun ternyata tidak semudah yang saya kira. Beberapa kali ajakan dari mereka untuk mengisi pengajian di beberapa masjid tidak saya ikuti. Saya pikir, tidak ikut berarti sudah selesai. Tapi ternyata tidak, orang-orang itu datang ke kost, dan terus mengajak saya untuk ikut. Semakin lama semakin memaksa, yang membuat saya merasa semakin tidak nyaman. Akhirnya, saya putuskan untuk pindah kost yang jauh, dan beberapa minggu tidak masuk kuliah karena takut didatangi ke kampus. Ternyata dugaan saya itu benar, mereka berkali-kali datang ke kampus mencari saya.

Duh, semakin panik saya saat itu. Alhamdulillah teman-teman kampus membantu saya, dan setiap mereka datang ke kampus, teman-teman bilang bahwa saya sudah pindah, tidak kuliah di situ lagi.

Inti dari pengalaman saya ini :

1. Berilah pelajaran agama yang kuat pada anak-anak kita sejak dini untuk menghadapi dunia yang keras. Tanamkan pada anak bahwa Islam yang benar itu seperti yang di ajarkan dirumah, kenalkan pada anak-anak kita tokoh seperti Kyai Hasyim, Gusdur, Mbah Maimun, Gus Mus, Habib Lutfi dan lainnya.
2. Berikanlah pemahaman pada anak kita bahwa Islam itu damai dan Indah.
3. Awasi perubahan anak kita ketika ia jauh dari keluarga, jangan dilepas begitu saja.
4. Kelompok Radikal itu begitu halus dan mempesona pada awalnya datang, tapi akhirnya akan memberikan pemahaman yang keliru.

Sebagaimana dituliskan oleh Adi Iswadi. (DDC-Igan)

Tinggalkan Balasan